Selasa, 04 Oktober 2016

Buku Panduan Penyusunan Skripsi




BAB I
PENDAHULUAN


A.    Pengantar
Skripsi yang menjadi salah satu syarat bagi mahasiswa dalam menyelesaikan program S1 adalah sutu hasil karya ilmiah yang proses penyusunannya harus sesuai dengan metodologi dan prosedur penelitian ilmiah, dari mulai perencanaan (pembuatan desain penelitian), pengumpulan dan analisis data, sampai pada proses penulisannya menjadi sebuah skripsi.
Buku panduan penyusunan skripsi dilingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Wal Aqidah Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya ini dibuat sebagai acuan mahasiswa dalam penyusunan skripsi. Dengan buku panduan ini diharapkan kesulitan-kesulitan mahasiswa dalam memahami metodelogi dan prosedur penelitian ilmiah yang cukup beragam dapat ditekan dan dikurangi, sehingga dapat mempermudah dan memperlancar penyusunan skripsi mereka.
Meskipun buku ini lebih banyak memuat petunjuk-petunjuk yang bersifat teknis, namun dibahas pula tentang petunjuk-petunjuk lain yang bersifat metodelogis. Kendati demikian, mahasiswa tidak cukup hanya berpedoman pada buku ini semata; karena penyusunan skripsi tidak lain adalah suatu aktivitas penelitian ilmiah, maka para mahasiswa yang akan menyusun skripsi, harus sudah lulus pada mata kuliah metodelogi penelitian

B.     Wilayah Penelitian Penyusunan Skripsi
Disiplin ilmu-ilmu keislaman yang dikembangkan di ASH-SHOFA MANONJAYA Tasikmalaya, sesuai dengan Fakultas dan Jurusan yang ada mencakup :
1.      Jurusan Syari’ah, terdiri dari :
a.       Prodi Ahwal Al-Syakhsiyyah (AS)
2.      Jurusan Ushuludin, terdiri dari :
a.       Prodi Ilmu Aqidah (IA)
Semua disiplin ilmu-ilmu keislaman yang dikembangkan dilingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Wal Aqidah Ash-Shofa Manonjaya tersebut, sekaligus merupakan wilayah dan dan sasaran (subjek matter) penelitian untuk penyusuna skripsi yang secara kategoris dibagi kedalam dua bagian, yaitu :
Pertama : wilayah atau sasaran penelitian yang berupa teks-teks, ajaran-ajaran, gagasan-gagasan, pandangan-pandangan, prinsip-prinsip, generalisasi-generalisasi, serta produk-produk penafsiran dan pemikiran atas teks-teks tersebut. Wilayah penelitian jenis pertama ini berkairan dengan islam sebagai teks dan ajaran lebih bersifat normamtif dan doktriner.
Kedua : wilayah atau sasaran penelitian yang berupa gejala atau penomena keagamaan, rangkaian peristiwa, gejala sosial keagamaan, institusi dan organisasin keagamaan, perilaku kegamaan manusia, baik individu maupun kelompok (Mattulada, 1989:1) wilayah penelitian jenis kedua ini berkaitan dengan penomena sosial keagamaan yang bersifat dinamis, faktual dan empirik.
Buku panduan ini tidak banyak berarti bagi mahasiswa yang tidak memahami seluk-beluk metodologi penelitian ilmiah. Oleh karena itu, untuk melengkapi pandian ini, mahasiswa perlu membaca dan menelaah buku-buku metodelogi penelitian, terutama yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dikembangkan di jurusan atau program studi masing-masing.



BAB II
PROPOSAL PENELITIAN UNTUK PENELITIAN SKRIPSI

Pembuatan proposal penelitian merupakan salah satu tahap yang tahap yang sangat penting dalam pelaksanaan penelitian untuk penyusunan skripsi. Secara umum, hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilaksanakannya, sehinngga dengan perencanaan tersebut, penelitian tidak akan mengalami kendala dilapangan, karena segala sesuatusudah direcanakan dan dipertimbangkan dengan baik.
Proposal penelitian dilingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Wal Aqidah Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya harus memuat unsur-unsur dibawah ini :
1.      Judul Penelitian
2.      Latar Belakang Masalah
3.      Perumusan Masalah
4.      Tujuan Penelitian
5.      Kegunaan Penelitian
6.      Tinjauan Pustaka
7.      Kerangka Pemikiran
8.      Hipotesis (jika ada)
9.      Langkah-langkah Penelitian
10.  Daftar Pustaka

A.    Judul Penelitian
Judul skripsi sebaiknya disusun secara ringkas, jelas dan dapat menggambarkan isi dari sebuah penelitian. Dalam judul penelitian ini, setidaknya dapat mengungkapkan masalah yang diteliti. Dalam penelitian kuantitatif, umumnya judul menunjukan minimal hubungan antara dua variabel.
Beberapa judul dibawah ini dapat dijadikan sebagai contoh :
·         Ahli waris pengganti (Kajian Perbandingan terhadap Penalaran Hazairin dan Penalaran Fiqh Madzhab).
·         Konsep Keadilan dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Tanggungjawab Moral


B.     Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah yang dimaksud di sini adalah latar belakang masalah penelitian, yang berfungsi sebagai pengantar munculnya masalah penelitian. Latar belakang masalah sangat penting dalam sebuah penelitian, mengingat bahwa pada hakikatnya suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri dan terisolasi dari faktor-faktor lain. Suatu gejala tidak disebut sebagai masalah penelitian apabila gejala tersebut tidak memiliki konteks ruang maupun waktu.
Latar belakang masalah penelitian menggambarkansebuah atau beberapa gejala yang dijadikan sebagai masalah penelitian menurut konteks yang melatar belakanginya. Konteks yang melatar belakangi suatu masalah penelitian bisa berupa latar belakang kebudayaan, ekonomi, politik, psikologis dan lain sebagainya.
Bila seorang peneliti atau seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah berminat pada masalah pendapat ulama di daerah pedesaan tentang ahli waris pengganti, ia dapat menyusun latar belakang masalah berdasarkan konteks yang melatarbelakangi munculnya pendapat tentang ahli waris pengganti tersebut. Konteks yang melatarbelakangi munculnya pendapat tentang ahli waris pengganti tersebut bisa berupa latar belakang pendidikan sang ulama, latar belakang atau konteks sosial, ekonomi, budaya, politik dimana ulama itu hidup, serta konteks-konteks lain yang memiliki tautan dengan munculnya pendapaat tersebut.
Bila seorang mahasiswa fakultas tarbiyah berminat dengan masalah tentang hubungan antara persepsi siswa tentang hukum dengan disiplin mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru; maka ia dapat merekonstruksi konteks-konteks psikologis, pergaulan, sosial, budaya dan lain-lain, yang dipandang melatarbelakngi masalah tersebut.
Bila penelitian pada fakultas dakwah tertarik dengan permasalahan tentang efetivitas pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan disebuah lembaga pendidikan, penelitian dapat mengungkapkan berbagai konteks yang dipandang menjadi latar belakang permasalahan tersebut..
Dalam latar belakang masalah ini, penelitian harus mengungkapkan ketertarikan terhadap  masalah yang akan diteliti, sehingga dia termotivasi untuk meneliti masalah tersebut, dan tidak memilih masalah yang lain.



C.    Perumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini memuat tiga bagian, yaitu : 1) identifikasi masalah, 2) pembatasan masalah, dan 3) rumusan masalah. Tetapi bisa juga perumusan masalah bisa memuat dua bagian, yaitu identifikasi masalah dan rumusan masalah. Hal ini tergantung pada permasalahan yang diteliti.
Identifikasi masalah adalah suatu tahap permulaan dari penguasaan peneliti terhadap masalah dimana suatu objek dalam suatu jalinan tertentu dapat dikenali sebagai suatu atau beberapa masalah. Tahap identifikasi masalah ini dapat dilakukan oleh peneliti melalui pengamatan secara empiris terhadap masalah yang akan diteliti, menelaah berbagai sumber bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan penelitian, hasil kegiatan seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah lainnya; pernyataan dari pemegang otoritas; pengalaman pribadi, bahkan juga bisa dari perasaan intuitif.
Melalui sumber-sumber tersebut, peneliti mengajukan berbagai pertanyaan yang relevan, yang berkaitan dengan suatu gejala, obejek, sasaran atau subject matter yang diminatinya. Peneliti yang berminat dengan objek penelitian tentang pendapat ulama di daerah pedasaan tentang ahli waris pengganti, misalnya dapat melakukan identifikasi maslah dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti : Bagaimana pendapat mereka tentang ahli waris pengganti? Bagaimana karakteristik ijtihad mereka ? Apakah pendapat mereka itu sesuai dengan kaidah-kaidah ijtihad yang disepakati oleh sebagian besar ulama? Mengapa mereka berpendapat demikian? Apa yang menjadi  latar belakang sehingga mereka berpendapat demikian? Dalam konteks sosial, ekonomi, politik dan budaya apa, sehingga mereka berpendapat demikain? Metode-metode ijtihad apa yang digunakan atau yang dominan sehingga mereka berpendapat demikian? Apakah ada pengaruh dari ulama lain, baik langsung ataupun tidak langsung menyebabkan mereka berpendapat demikian? Pengaruh-pengaruh apa yang ditimbulkan oleh pendapat mereka tersebut? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang relevan.
Peneliti yang berminat dengan objek penelitian tentang hubungan antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru, dapat mengidentifikasi permasalahan  dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti : Bagaimana persepsi siswa tentang hukuman? Bagaimana tingkat kedidsiplinan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas guru? Apakah terdapat hubungan antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru? Kalau terdapat hubungan, bagaimana hubungannya, positif atau negatif? Tinggi, sedang atau rendah? Faktor-faktor apa yang mendorong kedisiplinan siswa? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang sesuai.
Atau peneliti berminat dengan masalah efektivitas pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan disebuah lembaga pendidikan, ia dapat melakukan dengan identifikasi masalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan seperti : Bagaimana pelakasanaan bimbingan dan penyuluhan lembaga pendidikan tersebut? Apakah pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan tersebut sudah sesuai dengan kaidah kaidah-kaidah bimbingan dan penyuluhan? Apakah aktivitas bimbingan dan penyuluhannya secara efektif dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa? Bagaimana persepsi siswa terhadap kegiatan bimbingan dan penyuluhan? Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan bimbingan dan penyuluhan dengan peningkatan belajar siswa? Pengaruhnya bagaimana, positif atau negatif? Tinggi atau rendah? Dan lain-lain
Denan kata lain, peneliti sesungguhnya dapat mengajukan berbagai pertanyaan dalam berbagai proses identifikasi masalah atau suatu gejala, objek atau sasaran penelitian. Dengan memahami masalah sebagai adanya keragaman gejala-gejala atau kesenjangan antara das sollen  (kondisi yang ada) dengan das sein (realitas yang sesungguhnya) terhadap suatu objek, gejala atau subject matter penelitian, maka peneliti akan menemukan banyak pertalian masalah dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang relevan. Tetapi bisa jadi, dan ini amat jarang, proses identifikasi masalah hanya menemukan satu jenis masalah pada suatu gejala atau objek tertentu
Setelah penelitian melakukan identifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah melakukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah ini amat diperlukan mengingat :
1.      Tidak semua masalah yang teridentifikasi layak untuk diteliti
2.      Jika masalah yang teridentifikasi ternyata sangat banyak, maka penelitian perlu membatasinya, dengan mempertimbangkan aspek masalahnya itu sendiri maupun dari aspek calon penelitinya
Pertimbangan dari aspek masalahnya dilakukan seobjeketif mungkin, sehingga penelitian masalah tersebut dapat mengembangkan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoritis  penelitiannya, serta sumbangannya dalam memecahkan problem-problem praktis. Itulah sebabnya peneliti harus benar-benar mempertimbangkan suatu masalah sesuai dengan konteksnya; karena suatu masalah layak diteliti dalam konteks tertentu, tetapi bisa jadi tidak layak dalam konteks yang lain
Sedangkan pertimbangan dari aspek calon peneliti dilakukan untuk mengetahui sesuai atau tidaknya calon peneliti untuk membahas atau meneliti masalah tersebut. Setidaknya ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan berkenaan dengan aspek calon peneliti ini, yaitu :
1.      Bekal kemampuan teoritis calon peneliti
2.      Penguasaan peneliti atas metode yang diperlukan
3.      Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia
4.      Waktu yang dapat digunakan
5.      Biaya yang tersedia
Contoh pembatasan masalah :
Pertama, penelitian atas objek tentang pendapat ulama di daerah pedesaan tentang ahli waris pengganti, yang telah teridentifikasi masalah-maslahnya seperti yang telah dijelaskan di atas :
1.      Bagaimana pendapat mereka tentang ahli waris pengganti ?
2.      Bagaimana karakteristik ijtihad mereka ?
3.      Apakah pendapat mereka itu sesuai dengan kaidah-kaidah ijtihad yang disepakati oleh sebagian besar ulama ?
4.      Mengapa mereka berpendapat demikian ?
5.      Apa yang mejadi latarbelakang sehingga mereka berpendapat demikian ?
6.      Dalalm konteks sosial,ekonomi, politik dan budaya apa sehingga mereka berpendapat demikian ?
7.      Metode-metode ijtihad apa yang digunakan atau yang dominan sehingga mereka berpendapat demikian ?
8.      Apakah ada pengaruh dari pendapat ulama lain, baik langsung atau langsung yang menyebabkan mereka berpendapat demikian ?
9.      Pengaruh-pengaruh apa yang ditimbulkan oleh pendapat mereka tersebut?
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, peneliti dapat membatasi masalah yang diteliti hanya pada masalah : 1) Bagaimana pendapat mereka tentang ahli waris pengganti ? 2) Metode-metode ijtihad apa yang digunakan atau yang dominan sehingga mereka berpendapat demikian ?
Kedua : penelitian atas objek tentang hubungan antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru, yang telah teridentifikasi masalah-malasahnya :
1.      Bagaimana persepsi siswa tentang hukuman ?
2.      Bagaiman tingkat kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas guru ?
3.      Apakah terdapat hubungan antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru ?
4.      Kalau terdapat hubungan, bagaimana hubungannya, positif atau negatif ?
5.      Hubungan tinggi, sedang atau  rendah ?
6.      Faktor-faktor apa yang mendukung kedisiplinan siswa ?
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, peneliti misalnya dapat membatasi permasalahan yang akan diteliti hanya pada : 1) Bagaimana persepsi siswa tentang hukuman? 2) Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa  dalam mengerjakan tugas-tugas guru? 3) Apakah terdapat hubungan antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru ?
Ketiga : Penelitian atas objek tentang efektivitas pelaksanaan bimbingan dan penuluhan disebuah lambaga pendidikan, dan telah teridentifikasi masalah-masalahnya :
1.      Bagaimana pelakasanaan bimbingan dan penyuluhan lembaga pendidikan tersebut?
2.      Apakah pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan tersebut sudah sesuai dengan kaidah kaidah-kaidah bimbingan dan penyuluhan?
3.      Apakah aktivitas bimbingan dan penyuluhannya secara efektif dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa?
4.      Bagaimana persepsi siswa terhadap kegiatan bimbingan dan penyuluhan?
5.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan bimbingan dan penyuluhan dengan peningkatan belajar siswa?
6.      Pengaruhnya bagaimana, positif atau negatif? Tinggi atau rendah?
Dari masalah-masalah yang teridentifikasi tersebut, peneliti membatasi masalah yang akan diteliti hanya pada masalah : Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan bimbingan dan penyuluhan dengan peningkatan belajar siswa ?
Bila ternyata proses identifikasi masalah hanya menemukan satu jenis masalah pada suatu gejala atau objek tertentu, maka tidak diperlukan lagi pembatasan masalah, sehingga dapat dilanjutkan dengan merumuskan masalah penelitiannya
Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin diketahui jawabannya. Rumusan masalah dijabarkan dari identifikasi masalah yang akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Rumusan masalah yang baik setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Rumusan masalah jelas dan spesifik
b.      Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
c.       Rumusan tersebut memberi petunjuk tentang landasan dan kerangka teoritis yang diperlukan, metode penelitian yang akan digunakan, serta rencana pengumpulan data yang diperlukan
Meskipun pada proses identifikasi dan pembatasan masalah yang sudah tergambarkan mengenai rumusan masalah, namun perlu lebih ditegaskan dan dikhusukan (spesifik) masalah yang akan ditelitinya melalui rumusan masalah
Contoh pada pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, yaitu : (1) bagaimana persepsi siswa tentang hukuman, dan (2) apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru ? perlu dirumuskan secara lebih spesifik dan jelas, sehingga menjadi :
1.      Bagaimana persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru ?
2.      Apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ?
Dari rumusan masalah tersebut, maka penelitiannya manjadi jelas dan spesifik (populasinya diketahui secara jelas dan spesifik), demikian pula teknik pengumpulan datanya  sudah dapat diperkirakan (kuesioner atau angket, telaah data sekunder dan lain-lain)
Contoh lain dari perumusan masalah : 1) Bagaimana pendapat ulama desa dewasari kecamatan cijeunjing tentang ahli waris pengganti ? 2) Metode ijtihad apa yang digunakan atau yang dominan  sehingga mereka berpendapat demikian ?. penyebutan desa dan kecamatan pada rumusan masalah tersebut dimaksudkan agar masalah penelitian menjadi jelas dan spesifik.
Namun jika dalam pembatasan masalah peneliti sudah dapat memperkirakan tentang landasan dan kerangka teoritis yang diperlukan, metode penelitian yang akan digunakan, serta rencana dalam pengumpulan data yang diperlukan, maka rumusan masalah hanya diperlukan untuk memperjelas dan mempertegasnya kembali

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, tujuan penelitian merupakan lanjutan dari perumusan masalah. Oleh karena itu tujuan penelitian harus memiliki kaitan dengan rumusan masalah. Tujuan penelitian ini dibuat dengan menggunakan kalimat  aktif atau pasif, sebagai pengganti dari pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ada pada rumusan masalah.
Tujuan penelitian biasanya dimulali dengan kalimat : “Tujuan penelitian ini adalah untuk...” atau “Penelitian ini bertujuan untuk...”. Kata-kata kerja pembuka yang biasa digunakan adalah : untuk mengetahui, menemukan, menjelaskan, menganalisis, menguraikan, menilai, menguji, membandingkan, mengetahui hubungan antara, memperoleh data, meneliti pengaruh, meneliti efek dan lain sebagainya
Sebagai contoh dari rumusan masalah : Bagaimana persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru ? Apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ? peneliti dapat menyusun tujuan penelitiannya sebagaiberikut :
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru
2.      Untuk menemukan hubungan antara persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ?

E.     Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian menyatakan kemungkinan yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang di dapat dari penelitian. Kegunaan penelitian juga dapat disebut dengan signifikansi penelitian. Secara umum, kegunaan penelitian diarahkan pada dua jenis kegunaan.
Pertama, kegunaan yang bersifat ilmiah, yaitu manfaat yang diambil dari hasil penelitian untuk pengembnagan ilmi pengetahuan
Kedua, kegunaan yang bersipat praktis, yaitu sejauhmana kegunaan penelitian untuk memecah problem-problem praktis yang dihadapi masyarakat. Kegunaan yang bersifat praktis ini juga diarahkan sebagai bahan masukan dalam suatu proses pengambilan keputusan.
Contoh : setelah masalah 1) Bagaimana pendapat ulama desa dewasari kecamatan cijeunjing tentang ahli waris pengganti ? 2) Metode ijtihad apa yang digunakan atau yang dominan  sehingga mereka berpendapat demikian ?, dijawab melalui proses penelitian. Hasil pemecahan masalah tersebut dapat digunakan untuk :
1.      Kegunaan secara ilmiah
a.       Dapat digunakan sebagai landasan teoritis dalam memahami karakter ijtihad para ulama didaerah pedesaan.
b.      Landasan teori tersebut juga dapat terus diuji validitasnya sehingga ditemukan generalisasi-generalisasi baru yang dapat mendeskripsikan karakteristik ijtihad para ulama di daerah pedesaan
2.      Kegunaan secara praktis
a.       Hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah problem-problem pembagian harta waris, terutama untuk kasus-kasus kewarisan yang sama.
b.      Hasil penelitian tersebut dapat juga berguna untuk membuat kebijakan dibidang hukum waris

F.     Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka tiada lain adalah sebagai upaya untuk merumuskan landasan teoritis yang akan digunakan dalam memecahkan masalah yang telah dirumuskan. Dalam hal ini, peneliti perlu mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitian yang ia lakukan, terutama agar suatu penelitian memiliki landasan yang kokoh dan tidak hanya sekedar  coba-coba (trial and error). Untuk itulah perlu dilakukan telaah kepustakaan atau tinjauan pustaka.
Sumber kepustakaan secara garis besarnya dapat dibedakan ke dalam dua kelompok,  yaitu : 1) sumber acuan umum, 2) sumber acuan khusus (Suryabrata, 1992:66). Teori-teori dan konsep-konsep pada umumnya dapat ditemukan dalam sumber acuan umum, yaitu kepustakaan yang berwujud buku-buku teks, ensiklopedi, monograf dan lain sebagainya. Sedangkan generalisasi-generalisasi dapat ditarik dari kesimpulan hasil-hasil penelitian terdahulu. Hasil-hasil penelitian terdahulu ini dapat ditemukan dalam sumber acuan khusus, seperti laporan-laporan penelitian, jurnal penelitian, bulletin penelitian, skripsi, tesis, disertasi dan lain sebagainya.
Sumber acuan suatu tinjauan pustaka atau telaah kepustakaan, setidaknya harus memenuhi prinsip kemutakhiran (recency) dan prinsip keterkaitan (relevance). Peneliti sedapat mungkin mengemukakan teori-teori dari sumber-sumber mutakhir, sebab teori-teori dan konsep-konsep lama bisa jadi suadah tidak digunakan lagi, karena kebenarannya sudah dibantah oleh teori-teori atau konsep-konsep yang lebih baru. Untuk jenis penelitian historis atau penelitiaan terhadap objek hukum, atau hasil ijtihad ulama salaf, prinsip recency ini tidak menjadi persyaratan dalam penyusunan tinjauan pustaka.
Selain prinsip kemutakhiran, peneliti juga harus menyusun teori-teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah penelitian. Relevansi antara landasan teoritis dengan masalah penelitian sangat penting, agar teknik pemecahan masalah penelitian menjadi terarah.
Bagi peneliti yang tertarik dengan objek “ hubungan antara persepsi siswa terhadap hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas guru” ia harus melakukan telaah kepustakaan terutama yang berkaitan dengan teori-teori atau konsep-konsep tentang persepsi, konsep hukuman dalam dunia pendidikan, serta konsep pembentukan prilaku disiplin. Konsep-komsep tersebut harus bersifat mutakhir dan relevan. Oleh karena itu, tatkala peneliti menyusun landasan teoritis (pada bab II) yang diambil dari berbagai pendapat para ahli dari berbagai sumber, harus selalu mengontrol apakah teori-teori yang dikemukakan tersebut berhubungan dengan masalah penelitian atau tidak.
Sedangkan peneliti yang tertarik dengan subject matter “pendapat ulam di daerah pedesaan tentang ahli waris pengganti“, ia dapat melakukan telaah kepustakaan sehingga ditemukan pendapat-pendapat ulama atau hasil-hasil ijtihad ulama tentang ahli waris pengganti, wasiat wajibah, dan lain-lain, baik pendapat ulama klasik maupun kontemporer.

G.    Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran yang dimaksud di sini adalah kerangka teori dan atau kerangka penalaran. Kerangka penalaran adalah urutan penalaran yang akan digunakan dalam pemecahan masalah. Kerangka pemikiran itu harus berbentuk operasional yang diturunkan dari satu atau beberapa teori atau pernyataan-pernyataan logis yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Kalau pada tinjauan pustaka peneliti melakukan telaah kepustakaan terhadap teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang relevan dengan masalah penelitian, maka pada kerangka pemikiran ini, peneliti menyusun suatu kerangka pemikiran dengan menggunakan argumen logis berdasarkan teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang ada pada tinjauan pustaka.
Agar sebuah kerangka pemikiran meyakinkan, maka argumentasi yang disusun tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan, sebagaimana dikemukakan oleh suriasumantri (1999:320-321) yaitu :
1.      Teori-teori yang dipergunakan dalam membangun kerangka pemikiran harus merupakan pilihan dari teori-teori yang dikuasai oleh peneliti secara lebih lengkap (the state of art) dengan mencakup perkembangan-perkembangan terbaru.
2.      Analisis filsafati dari teori-teori keilmuan yang difokuskan kepada cara berfikir keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut  dengan pembahasan secara eksplisit mengenai postulat, asumsi dan prinsip yang mendasarinya.
3.      Mampu mengidentifikasi masalah yang timbul sekitar disiplin keilmuan tersebut.
Kekuatan utama kerangka pemikiran terletak pada argumentasi yang logis, ynag bisa disusun dengan menggunakan skema atau bagan alur pikir.
Penelitian yang memiliki rumusan masalah : Bagaimana persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru ? Apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas guru ?; dapat disusun sebuah kerangka pemikiran yang menunjukkan hubungan antara variabel yang tercakup dalam penelitian tersebut. Untuk masalah pertama (Bagaimana persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru ?),peneliti dapat membuat kerangka pemikiran berdasarkan alur pemikiran, misalnya sebagai berikut :



Skema kerangka pemikiran I
 IQ siswa
Kondisi kejiwaan siswa
Motivasi siswa
Proses belajar mengajar
siswa
Persepsi siswa tentang hukuman
Lingkungan keluarga
Lingkungan sekolah
Lingkungan masyarakat
 












Dari skema tersebut, kerangka berfikir dapat dijelaskan secara argumentatif sebagai berikut : Persepsi siswa tentang hukuman, akan dipengaruhi oleh keberadaan siswa sebagai input dan dipengaruhi pula oleh proses belajar mengajar selama masa studi siswa. Selain kedua faktor yang dipandang berpengaruh terhadap persepsi siswa tentang hukuman, juga dipengaruhi oleh variabel-variabel lain; seperti IQ siswa, kondisi kejiwaan dan motivasi siswa (faktor internal); serta kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (faktor eksternal).
Argumen tersebut tentu harus berdasarkan pada kajian teoritis yang memadai, yang terdapat dalam tinjauan pustaka.
Sedangkan untuk masalah kedua ( Apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukuman yang diberikan oleh guru dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru)kerangka berfikirnya dapat dibuat misalnya sebagai berikut:
Persepsi siswa tentang hukuman
Persepsi siswa tentang hukuman
IQ siswa
Kondisi Kejiwaan
Motivasi siswa
Lingkungan keluarga,sekolah,dan masyarakat
 
 








Dengan skema tersebut dapat disusun argumen bahwa kedisiplinan siswa dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang hukuman, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti : IQ siswa, kondisi kejiwaaan siswa, dan motivasi siswa (faktor internal); serta kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat (faktor eksternal).

H.    Hipotesis (jika ada)
Tidak selamanya suatu penelitian untuk penysunan skripsi menggunakan hipotesis. Namun demikian, kebanyakan peneliitian kuantitatif selalu memuat hipotesis.
Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah yang akan diteliti, yang merupakan instrumen kerja dari teori, yang disusun berdasarkan argumen logis yang ada pada kerangka pemikiran. Sebagai hasil dari deduksi teori, hipotesis lebih bersifat spesifik, sehingga lebih siap untuk diuji secara empiris.
Suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataa yang menghubungkan antara dua variabel atau  lebih. Hubungan tersebut dapat dirumuskan secara eksplisit maupun inplisit. Selain itu, hipotesis juga harus dapat memberikan gambaran bagaimana benetuk hubungan tersebut, apakah positif atau negatif,  tinggi, sedang atau rendah, berbeda tidak berbeda, serta memberikan petunjuk bagaimana cara mengujinya.
Sebagai contoh : dari kerangka pemikiran yang telah dibangun oleh peneliti, selanjutnya disusun suatu hipotesis, misalnya :
Ho : tidak terdapat hubungan positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas dari guru
Hipotesis nol (Ho) tersebut diajukan jika dalam kajian teoritis ditemukan kecenderungan tidak adanya hubungan positif antara persepsi siswa dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas dari  guru. Tetapi jika dalam kajian teoritis ditemukan kecenderungan adanya teori-teori yang menyatakan terhadap hubungan positif antara persepsi siswa dengan kedisiplinan mereka, maka penelitian menggunakan hipotesis kerja (H1) yang berbunyi :
H1 : terdapat hubungan positif antara persepsi kelas IX MTs Darusalam tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas dari guru. Dengan demikian, meskipun hipotesis ini mermupakan dugaan dan kesimpulan sementara, peneliti tidak boleh seenaknya menyatakan hipotesis tanpa didukung oleh teori-teori yang dikemukakan dalam tinjauan pustaka
Namun demikian, penelitian juga dapat mengajukan kedua jenis hipotesis tersebut (H0 dan H1) secara bersama-sama (Suriasumatri, 1999:330)

I.       Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah atau bisa juga disebut dengan prosedur penelitian ini dalam sebuah proposal penelitian setidaknya mencakup :
·         Lokasi dan waktu penelitian
·         Variabel penelitian
·         Populasi dan sampel
·         Metode penelitian
·         Tenik pengumpulan data
·         Sistematika penulisan

1.      Lokasi dan waktu penelitian
Dalam  proposal penelitian, peneliti harus menyebutkan lokasi dimana suatu penelitian dilakukan. Lokasi penelitian harus disebutkan secara jelas, jika penelitiannya dilakukan dalam wilayah, daerah atau tempat tertentu. Bagi peneliti yang menjadikan kitab-kitab, buku-buku, literatur-literatur dan sejenisnya, tidak perlu meyebutkan lokasi penelitian.
Selain lokasi penelitian peneliti juga harus secara jelas menyebutkan lamanya waktu penelitian. Lamanya waktu penelitian ini dihitung sejak peneliti mengajukan proposal penelitian hingga selesainya penulisan laporan penelitian. Menyebutkan waktu penelitian ini akan lebih baik jika dilengkapi dengan time schedule, yang menggambatkan secara jelas kapan setiap tahapan  dalam penelitian ini akan dilakukan.

2.      Variabel penelitian
Variabel penelitian adalah bagian penting dari  suatu penelitian. Bagi penelitian kuantitatif, varibel penelitian bahkan menjadi syarat mutlak. Untuk penelitian jenis ini, minimal variabel yang diteliti adalah dua variabel (X dan Y). Sedangkan untuk jenis penelitian kualitatif, variabel penelitian setidaknya menggambarkan objek yang diteliti.
Contoh penelitian dengan masalah : Apakah terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukuman dengan kedisiplinan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru ?, didalamnya mengandung dua variabel,  yaitu :
Varibel X = Persepsi siswa kelas IX MTs Darussalam tentang hukum  yang diberikan oleh guru
Variabel Y = Kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru

3.      Populasi dan sampel
Populasi penelitian, terutama penelitian yang menjadikan manusia atau benda tertentu sebagai sasaran, disyaratkan untuk menjelaskan populasi penelitian, jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel. Tetapi untuk penelitian yang menjadikan kitab-kitab, buku-buku, atau literatur-literatur lainnya, atau penelitian yang menjadikan pendapat atau pandangan seseorang mengenai sesuatu, tidak harus mencantumkan populasi dan sampel.
Populasi dapat diartikan sebagai keseluruhan orang atau benda dalam sesuatu kategori tertentu, sebeeagaimana dinyatakan oleh June Audrey True bahwa “Popualation is a number of people or tems all in the category” (True, 1988:71). Dengan demikian, maka populasi mencakup seluruh orang atau benda dalam kategori tertentu yang diteliti.
Namun demikian, karena berbagai alasan tidak semua hal yang ingin dijelaskan atau diramalkan atau dikendalikan dapat diteliti. Penelitian ilmiah boleh dikatakan hampir selalu hanya dilakukan terhadap bagian saja dari hal-hal yang sebenarnya ingin diteliti (Suryabrata, 1992:81). Jadi penelitian hanya dilakukan terhadap sampel, kecuali penelitian yang menjadikan keseluruhan populasi untuk diteliti.
Tidak ada ketentuan yang pasti mengenai beberapa jumlah sampel yang harus diambil. Tetapi ada persyaratan bahwa sampel itu harus representatif, dalam arti dapat benar-benar menggambarkan, mencerminkan, atau mewakili populasinya. Ada empat parameter yang bisa dianggap menentukan, yaitu : a) Variabelitas populasi, dalam arti  bahwa peneliti harus menerima populasi sebagaimana adanya dan tidak boleh memanipulasinya ; b) Besar sampel, dalam arti semakin besar atau semakin banyak sampel yang diambil, maka akan semakin tinggi tarap representatifnya; c) Teknik pengambilan sampel, dan d) Kecermatan mengambil ciri-ciri sampel.
Mengenai teknik pengambilan sampel, peneliti dapat mengambil beberapa teknik sesuai dengan karakteristik populasi dan kebutuhan penelitiannya. Secara garis besar, teknik pengambilan sampel ada dua cara, yaitu : random sampling (sampel acak), dan non random sampling (sampel tidak acak) (True, 1988:75). Teknik pengambilan sampel secara lebih rinci dan lengkap dapat dilihat dalam buku metodologi penelitian.

4.      Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusuna skripsi sangat tergantung pada karakteristik masalah, tujuan, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian. Secara umum, metode penelitian untuk penyusuna skripsi dilingkungan Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya disesuaikan  dengan disiplin ilmu yang dikembangkannya, yang dapat dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu :
a.       Metode penelitian yang bersumber pada tradisi  ilmu-ilmu keislaman klasik
b.      Metode penelitian ilmiah
Pembagian diatas sama sekali tidak berarti bahwa metode penelitian yang bersumber pada tradisi ilmu-ilmu keislaman klasik tidak ilmiah. Pengelompokan tersebut semata-mata hanya untuk mempermudah dalam mengakomodasi kesuanya
Metode penelitian yang bersumber pada tradidsi ilmu-ilmu keislaman klasik itu ialah :
1)      Ulumul Qur’an, Ulumul Qur’an adalah disiplin ilmu yang didalamnya terkandung aspek-aspek metodologis untuk penelitian dan pengembangan bidang kajian Al-Qur’an.
2)      Ulumul Hadits, Ulumul Hadits merupakan disiplin ilmu untuk penelitian dan pengembangan bidang Al-Hadits
3)      Ushul Fiqh, disiplin ini merupakan bagian dari tradisi ilmu-ilmu keislaman klasik untuk penelitian dan pengembangan Al-Fiqh
Sedangkan metode penelitian ilmiahdapat diklasifikasikan kedalam beberapa macam, tergantung pada disiplin ilmu dan subject matter penelitiannya. Beberapa contoh metode penelitian, diantaranya adalah metode penelitian historis,metode penelitian deskriptif, metode penelelitian eksperimental, metode penelitian survey, metode penelitian content analysis, metode penelitian evaluasi, metode penelitian evaluasi, metode penelitian studi kasus, metode penelitian grounded research (Bisri, 1997:51-56)
1)       Metode penelitian historis bertujuan untuk merekontruksi masa lalu secara sistematis dan objektif, dengan mengumpulkan, menilai, melakukan verifikasi dan sintesa bukti-bukti untuk menerapkan fakta dan mencapai konklusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya penelitian tentang sejarahberdirinya islam di suatu wilayah, atau sejarah perkembangan dakwah islam daerah tertentu
2)      Metode penelitian deskriptif, bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. Misalnya penelitian tentang “pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan di pondok pesantren al huda tahun 2005-2010” dan conntoh-contoh lainnya.
3)      Metode penelitian eksperimental, biasanya digunakan unntuk melakukan pengujian hipotesis tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara variabel dan hubungan sebab akibat variabel penelitian. Pelaksanaannya memerlukan konsepdan variabel yang jelas serta pengukuran yang cermat. Penelitian ini biasanya dilakukan di laboratorium, di kelas atau lapangan tertentu
4)      Metode penelitian survey, adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunaikan kuesioner sebagai alat pengumpul data pokok. Dalam penelitian ini, sampel digunakan sebagai penduga terhadap populasi.
5)      Metode penelitian content analisys, yang pada awalnya digunakan pada disiplin ilmu komunikasi dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian yang bersifat normatif, seperti pendapat seseorang atau sekelompok orang tertentu tentang suatu perkara. Alat  analisi dapat menggunakan berbagai macam kaidah yang sudah ada, seperti kaidah bahasa kaidah ushul, logika (ilmu manthiq) dan lain sebagainya.
6)      Metode penelitian evaluasi, biasanya digunakan dalam bidang pendidikan dan BP (Bimbingan dan Penyuluhan) untuk mengetahui hasil atau prestasidari suatu program. Metode penelitian ini terbagi kedalam dua bagian, yaitu : metode penelitian evaluasi formatif dan metode penelitian evaluasi sumatif. Yang pertama dilakukan, untuk malakukan penilaian tentang faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat terhadap pelaksanaan suatu program; sedangkan yang kedua dilakukan untuk menilai pencapaian suatu program yang dirinci dalam target, kriteria, indikator dan ukuran yang telah ditetapkan dalam perencanaan program
7)      Metode penelitian studi kasus, dilakukan untuk mendeskripsikan suatu satuan analisis secara utuh, sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Suatu analisis itu bisa berupa seorang tokoh, suatu keluarga, suatu peristiwa, suatu komunitas dan lain sebagainya
8)      Metode penelitian grounded research, adalah metode penelitian yang menggunakan data sebagai bahan penyusunan hipotesis yang akan digunakan dalam perumusan teori. Karena penelitian ini bersifat induktif, maka tidak berangkat dari suatu teori tertentu atau kerangka berpikir tertentu. Penelitian tentang pengalaman keagamaan, kegiatan keagamaan, hubungan diantara pemeluk agama dan lain-lain,  dapat diteliti dengan metode ini

5.      Tenik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data akan sangat tergantung kepada jenis data yang diperlukan. Penentuan teknik pengumpulan data ini akan sangat menentukan kualitas data yang diperoleh peneliti, selain kualifikasi mengumpulkan data. Secara umum teknik pengumpulan data yang dapat digunakan untuk penelitian bidang ilmu-ilmu agama islam mencakup
1)      Studi kepustakaan atau dokumentasi
2)      Observasi
3)      Wawancara
4)      Kuesioner, angket atau tes
Dalam suatu penelitian, peneliti dapat menggunakan satu jenis teknik pengumpulan data, atau dapat pula menggabungkan beberapa teknik, tergantung pada data yang diperlukan

6.      Teknik Analisis Data
Setelah data-data dikumpulkan, selanjutnya peneliti harus menentukan teknik analisis data. Pada umumnya, teknik analisi adata dilakukan melalui tahapan-tahapan : kategorisasi, perbandingan, dan pencarian hubungan atau korelasi, peramalan dan lain sebagainya. Untuk penelitian kualitatif dapat digunakan analisis isi, generalisasi dan perbandingan, atau dapat mengikuti apa yang dikemukakan oleh Lexy J. Moleong dalam bukunya Metodelogi Penelitian Kualitatif. Sedangkan untuk penelitian kuantitatif  digunakan test statistik, baik dasar maupun lanjutan, serta dijelaskan jenis test statistik yang digunakan serta alasan penggunaannya
Khusus untuk penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik sebagai alat teknik analisis data, penelitia harus melakukan dua jenis uji, yaitu : uji persyaratan dan uji hipotesis.

7.      Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi dilingkungan Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut :
BAB I             : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Perumusan Masalah
C.     Tujuan Penelitian
D.    Kegunaan Penelitian
E.     Metodologi Penelitian
F.      Sistematika Penelitian
BAB II                        : LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A.    Tinjauan Pustaka
B.     Kerangka Pemikiran
C.     Hipotesis
BAB III          : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
(Pembahasan hasil penelitian, dimana sub-sub judulnya disesuaikan dengan kebutuhan)
BAB IV          : PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN




Contoh lengkap sistematika penulisan skripsi dengan judul : (HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA KELAS IX MTs DARUSSALAM TENTANG HUKUMAN DENGAN KEDISIPLINAN MEREKA DALAM MENJALANKAN TUGAS-TUGAS DARI GURU”

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (jika ada)
BAB I             : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Perumusan Masalah
C.     Tujuan Penelitian
D.    Kegunaan Penelitian
E.     Metodologi Penelitian
F.      Sistematikan Penelitian
BAB II                        : LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A.    Tinjauan Pustaka
1.      Teori-teori tentang persepsi
2.      Hakikat Hukuman
3.      Hakikat Kedisiplinan
B.     Kerangka Pemikiran
C.     Hipotesis
BAB III          : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Kondisi Objektif Lokasi Penelitian
B.     Deskripsi Data
1.      Persepsi Siswa tentang Hukum
2.      Kedisiplinan Siswa dalam Mengerjakan Tugas-tugas yang Diberikan Guru
C.     Pengujian Persyaratan
1.      Uji Normalitas Variabel-veriabel
2.      Uji Linieritas
D.    Pengujian Hipotesis
1.      Uji Regresi, Persamaan Regresi dan Koefisien Regresi
2.      Penentuan Nilai Koefisien Korelasi
3.      Uji Signifikansi Koefisien korelasi
BAB IV          : PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN




BAB III
SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI


Seminar proposal skripsi merupakan salah satu bagian proses penelitian yang bertujuan untuk memberikan masukan kepada mahasiswa dalam rangka penyempurnaan penelitian yang akan dilakukan dan memperluas wawasan keilmuan mahasiswa serta mengklarifikasi penelitian yang akan dilakukan, di samping itu dalam seminar ini sekaligus dilakukan ujian komprehensif (penguasaan teori-teori dan ilmu Studi Islam yang relevan dengan bidang keilmuan mahasiswa yang bersangkutan). Dengan demikian tim penguji mempunyai kewenangan untuk memberikan rekomendasi kelayakan penelitian, apakah penelitian dapat dilanjutkan atau tidak.

A.    Syarat Seminar Proposal Skripsi
Adapun syarat-syarat mendaftar seminar proposal penelitian adalah:
1.      Mahasiswa telah melakukan her regristrasi dan terdaftar sebagai mahasiswa STISA  Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya pada semester berjalan;
2.      Mahasiswa telah menyelesaikan sekurang-kurangnya 135 sks, dengan kategori semua mata kuliah mendapat nilai lulus minimal “C” dengan melampirkan foto copy Kartu Hasil Studi (KHS); serta diharapkan lancar membaca al-Qur’an.
3.      Proposal Skripsi telah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing.

B.     Prosedur Seminar Proposal Skripsi
Bagi  mahasiswa  yang  telah  memenuhi  syarat,  dapat  mengikuti  prosedur seminar proposal berikut:
1.      Prosedur pelaksanaan seminar proposal berbeda antara mahasiswa jurusan Manajemen dan jurusan Akuntansi, setelah proposal skripsi mahasiswa dinyatakan layak untuk diseminarkan, maka mahasiswa mengisi lembar pengajuan seminar proposal skripsi dengan mendapatkan tanda tangan persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji, sebagai dasar mempersiapkan pelaksanaan seminar proposal skripsi.
2.      Mahasiswa menyerahkan proposal penelitian yang telah disetujui oleh dosen pembimbing ke staf akademik jurusan sebanyak 4 (empat) eksemplar untuk didistribusikan ke dewan penguji seminar proposal skripsi.
3.      Pelaksanaan Seminar Proposal Skripsi ditetapkan oleh Ketua Jurusan sesuai dengan kalender akademik Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya
4.      Rekomendasi hasil seminar dapat dilihat setelah pelaksanaan seminar selesai;
5.      Mahasiswa dapat berkonsultasi kepada dosen pembimbing untuk revisi proposal sesuai pertimbangan dan arahan dari Tim Penguji selama seminar proposal.
6.      Proposal skripsi yang telah diseminarkan dan telah direvisi, disahkan oleh dosen penguji dan dosen pembimbing pada lembar pengesahan seminar proposal
7.      Proposal skripsi yang sudah mendapat pengesahan, harus disetorkan ke staf akademik jurusan dalam bentuk dijilid.



BAB IV
BAGIAN-BAGIAN SKRIPSI

Bentuk laporan penulisan skripsi di lingkunagan STISA Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya terdiri dari :

1.
Bagian Awal.



Bagian ini terdiri dari:
a.
Sampul atau Kulit Muka (cover)


b.
Halaman Judul


c.
Lembar Persetujuan



d.
Lembar Pengesahan



e.
Riwayat Hidup



f.
Halaman Motto dan Persembahan



g.
Ikhtisar


h.
Kata Pengantar


i.
Daftar Isi


j.
Daftar Tabel (jika ada)


k.
Daftar Gambar: Grafik, Diagram, Bagan, Peta dan



Sebagainya
2.
Bagian Utama



Bagian ini terdiri dari:
a.
Bab Pendahuluan


b.
Bab Landasan Teori dan Kerangka Pemikiran


d.
Bab Hasil Penelitian dan Pembahasan


e.
Bab Penutup
3.
Bagian Akhir.



Bagian ini terdiri dari:
a.
Daftar Pustaka


b.
Lampiran

A. Bagian Awal
Pada bagian ini berisi hal-hal yang berhubungan dengan penulisan skripsi yakni sebagai berikut :
  1. Sampul atau Kulit Muka (cover)
Tulisan dalam sampul atau kulit muka diruangkan dalam satu halaman penuh. Tulisan-tulisan yang harus dituangkan dalam sampul adalah :
·         Judul Skripsi (semuanya huruf kapital)
·         Tulisan SKRIPSI (semuanya huruf kapital)
·         Kalimat : Diajukan Sebagai Salahsatu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana ........ (Hukum untuk fakultas syari’ah, Sarjana Pendidikan Islam untuk fakultas tarbiyah dan Sarjana Sosial Islam untuk fakultas dakwah) pada jurusan .......... fakultas .......... Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Wal Aqidah Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya  (huruf pertama setiap kata menggunakan huruf kapital, kecuali kata depan dan kata sambung)
·         Kata : Oleh
·         Nama penulis skripsi (semua huruf kapital)
·         NPM (Nomor Pokok Mahasiswa)
·         Tempat peulisan, dalam hal ini TASIKMALAYA (semua huruf kapital)
·         Tehun penulisan, yaitu tahun hijriyah (H) dan tahun masehi (M)
Contoh dapat dilihat pada lampiran

  1. Halaman Judul
Tulisan yang ada pada halaman judul hampir sama dengan yang ada pada sampul atau kulit muka (cover). Perbedaannya pada sampul dicantumkan tujuan penyusunan skripsi, sedangkan pada halaman judul tidak dicantumkan.
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Lembar  Persetujuan
Yang ditulis dalam lembar persetujuan adalah judul skripsi, nama penulis skripsi, nama pembimbing, nama ketua jurusan, dan nama dekan. Gelar akademik dan jabatan akademik (Profesor, Dr, Drs, dll) ditulis menggunakan singkatan yang sudah baku
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Lembar Pengesahan
Setelah ujian skripsi selesai dan mahasiswa dinyatakan lulus, maka penjilidan dapat dilakukan jika telah diperiksa, disetujui dan ditandatangani oleh dosen pembimbing, para dosen penguji, dan Ketua Jurusan
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Riwayat Hidup
Bagian-bagian riwayat hidup penulis yang dicantumkan adalah nama, tempat dan tanggal lahir, orang tua, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan (kalau ada), pengalaman berorganisasi dan lain-lain.
Riwayat hidup penulis akan lebih baik jika dituangkan dalam bentuk esay. Lembar riwayat hidup penulis dapat dilengkapi dengan foto penulis, dengan ukuran 3 x 4 cm atau 4 x 6 cm, ditempel pada bagian kiri atas.
Contoh dapat dilihat pada daftar lampiran
  1. Halaman Moto dan Persembahan
Halaman motto dan persembahan ini sifatnya tidak merupakan keharusan. Dalam lembar ini, penulis dapat mengungkapkan kata-kata mutiara dan atau kata-kaa persembahan kepada orang-orang yang dianggap perlu
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Ikhtisar
Unsur-unsur yang harus diruangkan dalam ikhtisar ada tiga bagian, yaitu :
·         Kata IKHTISAR (semua huruf kapital)
·         Nama penulis skripsi (ditulis dengan hurup kapital) dan judul skripsi (ditulis dengan hurup miring/italic) huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf kapital kecuali kata depan dan kata sambung
·         Isi naskah ikhtisar.  Ditulis dengan singkat dan padat. Isi naskah ikhtisar ini terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data, dan diakhiri dengan kesimpulan penelitian
Semua unsur-unsur ikhtisar itu harus dituangkan dalam satu halaman penuh dan ditulis dengan menggunakan sepasi tunggal (satu sepasi)

  1. Kata Pengantar
Dimaksudkan untuk menyampaikan informasi secara global mengenai maksud penulisan skripsi, dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berjasa dalam penulisan skripsi. Ucapan terimakasih diurutkan berdasarkan kedudukan yang paling tinggi terlebih dahulu. Kata-kata yang digunakan harus sesuai aturan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, tidak boleh menggunakan kata-kata gaul.
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Daftar Isi
Halaman ini diberi judul “DAFTAR ISI” dan diletakkan di bagian tengah atas kertas. Setiap tulisan yang ada pada halaman ini tidak diakhiri dengan titik. Daftar Isi harus memuat “Halaman Judul” sampai dengan “Lampiran”, Bab, Nomor Bab, Judul Bab, Subbab dan Sub-subbab, dan seterusnya
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Daftar Tabel (jika ada)
Daftar Tabel memuat semua tabel dalam skripsi. Dalam Daftar Tabel harus ada nomor tabel, judul tabel, dan nomor halaman di mana tabel dicantumkan dalam teks
Contoh dapat dilihat pada lampiran
  1. Daftar Gambar (jika ada)
Daftar Gambar memuat semua gambar yang ada dalam skripsi. Dalam Daftar Gambar harus ada nomor gambar, judul gambar dan nomor halaman gambar di mana gambar itu diletakkan. Contoh penulisan Daftar Gambar seperti pada lampiran

B.     Bagian Utama
Bagian utama atau tubuh skripsi terdiri atas pendahuluan, landasan teori dan kerangka pemikiran, hasil penelitian dan penutup
1.      Pendahuluan
Pendahuluan memuat bagian-bagian yang berkaitan dengan masalah penelitian, serta langkah-langkah penelitian. Karena pedahuluan merupakan permulaan dari bagian utama skripsi, maka pendahuluan dijadikan sebagai BAB I.sedangkan unsur-unsur BAB I  mencakup : Latar  Belakang Masalah,  Permusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Metodologi Penelitian dan Sistematikan Penelitian
2.      Landasan Teoridan Kerangka pemikiran
Landasan teoritis dan kerangka pemikiran disajikan daklam BAB II,  dengan sub-sub dan atau tingkat hirarki judul yang lebih rinci, dan disesuaikan dengan teori-teori yang dibutuhkan dalam penelitian
3.      Hasil Penelitian
Hasil penelitiaan disajikan dalam BAB III,  yang memuat hasil-hasil penelitian, dari mulai deskripsi data sampai pada analisis data
4.      Penutup
Penutup memuat kesimpulan dan saran-saran berkenaan dengan hasil penelitian. Kesimpulan bisa disajikan dalam beberapa bagian. Tetapi inti dari kesimpulan adalah jawaban yang ringkas atas perumusan masalah dan hipotesis penelitian. Sedangkan saran-saran hanya disampaikan kepada pihak-pihak yang diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian. Karena penutup merupakan akhhir dari isi skripsi, maka penutup dimuat dalam BAB terakhir, biasanya BAB  IV

C.    Bagian Belakang
Bagian belakang skripsi terdiri atas daftar pustaka dan lampiran-lampiran
1.      Daftar Pustaka
Daftar pustaka memuat segala macam jenis bacaan yang digunakan sebagai bahan rujukan atau tela’ahan dalam penyusunan skripsi. Bahan bacaan ini berupa buku, jurnal, naskah hasil penelitian terdahulu, makalah, majalah, manuskrip, koran dan lain sebagainya.
Cara pembuatan daftar pustaka untuk skripsi di lingkungan Ash-Shofa Manonjaya adalah dengan mencantumkan nama penulis, tahun penerbit, judul tulisan, volume (bila ada), tahun dan tempat penerbitan. Untuk nama penulis yang terdiri dari beberapa kata, ditulis dengan mendahulukan nama belakang dengan diikuti tanda koma lau disambung dengan nama depan. Contoh penulisannya ada pada lampiran
2.      Lampiran
Lampiran merupakan tempat untuk menyajikan keterangan atau angka-angka tambahan. Lampiran dapat berisi peraturan suatu perundangan, perhitungan statistik, peta, gambar dan lain-lain. Kalau lampirannya lebih dari satu, maka masing-masing lampiran disertai dengan nomor urut lampiran, seperti :
LAMPIRAN    I         : ..........................................................
LAMPIRAN   II         : ..........................................................



BAB V
TEKNIK PENULISAN

Bagian ini berisi petunjuk yang berkaitan dengan teknik dan tata cara penulisan skripsi yang meliputi media penulisan (naskah); pengetikan; penomoran; tabel, daftar, dan gambar; kutipan, penggunaan bahasa, penulisan tanda baca, penulisan nama, penulisan sumber, daftar kepustakaan, dan hal-hal lain. Tata cara penulisan skripsi ini merupakan suatu keharusan yang wajib dipenuhi oleh mahasiswa agar laporan skripsi yang dihasilkan mengikuti aturan ilmiah yang berlaku.

A.    Media Penulisan (Naskah)
Media penulisan mencakup bahan dan ukuran naskah, bahan sampul.
1.   Bahan dan ukuran naskah
Naskah skripsi diketik di atas kertas HVS ukuran A4 (29,7 x 21,5 cm) berwarna putih dengan berat 80 gram dan tidak boleh ditulis bolak-balik.
2.   Bahan sampul
Sampul skripsi dibuat dari kertas buffalo atau yang sejenis diperkuat dengan karton dan dilapisi plastik (hardcover), sedangkan sampul proposal cukup menggunakan kertas buffalo (softcover).

B.     Aturan Pengetikan
Pengetikan naskah harus dilakukan dengan memperhatikan jenis huruf yang digunakan, tanda baca, jarak antar baris, batas tepi kertas, pengisian ruangan atau halaman, alinea atau paragraph baru, awal kalimat, judul dan subjudul, rincian ke bawah, pengaturan bab (judul) dan sub bab (judul), pengetikan bilangan dan satuan, letak simetris, penggunaan huruf cetak miring (italic), dan lain-lain.
  1. Jenis, ukuran huruf dan spasi
1). Pengolah kata yang digunakan adalah MS-Word, maka seluruh bagian naskah skripsi (kecuali bagian-bagian yang dijelaskan selanjutnya) wajib diketik dengan huruf Times New Roman ukuran huruf (font size) 12 point dengan jarak 2 (dua) spasi, dan diketik rapi (rata kiri kanan – justify), kecuali untuk:
(1). Judul sampul dan judul bab menggunakan Times New Roman Font Size 14, dan dicetak tebal (bold) dengan jarak 1 (satu) spasi.
(2). Abstrak diketik 1 (satu) spasi dan diusahakan hanya 1 (satu) halaman dengan jumlah kata berkisar 200-250.
(3). Daftar pustaka diketik 1 spasi dan jarak antara dua sumber diketik 2 spasi.
(4).Untuk naskah proposal skripsi diketik dengan 1,5 (satu setengah) spasi.
(5).Untuk huruf Al Qur’an dan hadist (tulisan Arab) dengan font jenis Traditional Arabic dengan ukuran font 16 spasi 1,5 (satu setengah).
2). Lambang-lambang, huruf Yunani, dan tanda-tanda lain yang tidak dapat diketik harus ditulis tangan dengan rapi menggunakan tinta hitam.
3). Huruf miring (italic) digunakan untuk menunjukkan istilah asing. Termasuk Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Huruf tebal (bold) untuk menegaskan istilah tertentu dan untuk menuliskan bab dan sub bab.
2.   Jarak antar baris (line spacing)
Secara umum jarak antar baris kalimat adalah 2 (dua) spasi kecuali kutipan langsung yang panjangnya lebih dari 5 baris jarak antar baris kalimatnya adalah 1 (satu) spasi. Khusus untuk kutipan langsung diketik agak menjorok ke dalam dengan 6 (enam) ketukan. Pada abstrak, daftar pustaka, judul daftar tabel dan daftar gambar, serta daftar ilustrasi yang melebihi satu baris, jarak antar baris hanya satu spasi.
3.   Batas (margin) pengetikan
Margin adalah bagian kertas yang dikosongkan pada sisi kiri, kanan, atas, dan bawah. Batas tepi pengetikan diukur dari tepi kertas sebagai berikut:
1). Batas-batas pengetikan diatur sebagai berikut:
(1). Tepi atas (top margin)
:   4 cm atau 1,5 inci dari tepi atas
(2). Tepi bawah (bottom margin)
:   3 cm atau 1 inci dari tepi bawah
(3). Tepi kiri (left margin)
:
4  cm  atau  1,5  inci  dari  tepi  kiri


(termasuk 1 cm untuk penjilidan)
(4). Tepi kanan (right margin)
:
3 cm atau 1 inci dari tepi kanan

5.   Alinea atau paragraf baru

(1). Setiap alinea baru diketik menjorok ke dalam (indent) dan dimulai pada pengetikan karakter yang ke 6 (enam) dari batas tepi kiri atau 1,5 cm.

(2). Satu alinea paling sedikit dari 2 (dua) kalimat dan mengandung ide pokok.

(3).Pergantian alinea dilakukan untuk uraian baru yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan isi alinea sebelumnya.

(4). Permulaan alinea baru harus diketik lima atau enam ketukan dari batas tepi kiri. Pada suatu halaman, alinea terakhir harus terdiri atas lebih dari satu baris dan tidak diperbolehkan hanya memuat satu baris saja. Demikian pula pada halaman baru tidak diperbolehkan memuat hanya satu baris saja dari alinea sebelumnya.


C.    Penggunaan Bahasa
Secara umum, bahasa yang digunakan dalam penyusunan skripsi di lingkungan Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya adalah bahasa Indonesia, kecuali untuk fakultas tarbiyah jurusan pendidikan bahasa arab diharuskan menggunakan bahasa arab. Bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa indonesia yang baikdan benar, sesuai dengan pedoman umum Ejaan yang disempurnakan (EYD). Karena skripsi merupakan karya ilmiah, maka bahasa  yang dipergunakan pun haraus mencerminkan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa ilmiah, misalnya dicerminkan oleh penggunaan bahasa yang baku, objjektif, logis dan ringkas

D.    Bahasa Asing dan Bahasa Daerah
Dalam penyusunan skripsi, penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah pada tempat-tempat tertentu, terutama kata yang belum ada pada bahasa Indonesia, tetapi diperbolehkan. Untuk membedakan bahasa asing dan bahasa Indonesia yang sudah baku, maka  penulisan bahasa asing atau bahasa daerah menggunakan huruf italic (huruf miring)

E.     Penulisan Naskah Arab
Penulisan naskah arab (al-Qur’an, al-Hadits atau naskah kitab-kitab berbahasa Arab lainnya) dalam skripsi dilakukan untuk memperkuat argumen, landasan teoritik, dasar hukum dan lain sebagainya. Penulisan naskah berbahasa Arab harus sama dengan naskah aslinya, baik syakal, tanda baca, nomor ayat dan lain sebaginya

F.     Transliterasi Huruf Arab ke Huruf Latin
Untuk memudahkan penulisan, transliterasi huruf Arab ke huruf Latin digunakan pedoman yang dibuat oleh lembaga penelitian dan pengembangan (LPP) Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya. Pedoman dibuat degan mempertimbangkan aspek-aspek kemudahan dan kesederhanaan diharapkan akan membantu mahasiswa dalam melakukan transliterasi Arab ke Latin.
1.      Konsonan
Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lain lagi dengan huruf dan tanda sekaligus.
No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
ا

tidak dilambangkan
2
ب
B
Be
3
ت
T
Te
4
ث
Ts
te dengan es
5
ج
J
Je
6
ح
H
ha dengan garis bawah
7
خ
Kh
ka dengan ha
8
د
D
De
9
ذ
Dz
de dengan zet
10
ر
R
Er
11
ز
Z
Zet
12
س
S
Es
13
ش
Sy
es dengan ye
14
ص
S
es dengan garis bawah
15
ض
D
d dengan gaaris bawah
16
ط
T
te dengan garis bawah
17
ظ
Z
zet dengan garis bawah
18
ع
koma terbalik di atas hadap kanan
19
غ
Gh
ge dengan ha
20
ف
F
Ef
21
ق
Q
Ki
22
ك
K
Ka
23
ل
L
El
24
م
M
Em
25
ن
N
En
26
و
W
We
27
H
Ha
28
ء
,
Apostrof
29
ي
Y
Ye

2.      Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong ), serta madd.

a.    Vokal tunggal (monoftong)

No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
     َ      
A
Fathah
2
           ِ  
I
Kasrah
3
 ٌ
U
dammah

b.      Vokal rangkap (diftong)

No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
ي           .
Ai
a dengan i
2
و            .
Au
a dengan u

Contoh :
كتب           : kataba
فعل            : fa’ala

c.       Vokal panjang  (madd)

No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
اﻳ
Â
a dengan topi di atas
2
ي
Î
i dengan topi di atas
3
 ىو
Û
u dengan topi di atas

Contoh :
قال        : qâla
رمى      : ramâ

3.      Ta marbûtah
Ta marbûtah ini diatur dalam tiga katagori:
a.       Huruf ta marbûtah pada kata berdiri sendiri, huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/, misalnya: محكمة menjadi mahkamah.
b.      jika huruf ta marbûtah diikuti oleh kata sifat (na’at), huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/ juga, misalnya:المدينة المنورة  menjadi  al-madÎnah al-munawarah.
c.       Jika hurup ta marbûtah  diikuti oleh kata benda (ism), huruf  tersebut ditransliterasikan menjadi /t/ misalnya:روضة الأطفال  menjadi raudat al-atfâl.


4.      Syaddah (Tasydîd)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda tasydid, dalam transliterasi ini tanda syaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tandasyaddah itu.
Contoh:   
نزّل   : nazzala
ربّنا   : rabbanâ                
5.      Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu ال. Namun, dalam transliterasi menjadi /al-/ baik yang diikuti oleh huruf syamsiah maupun kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariah, misalnya : الفيل (al-fîl), الوجود (al-wujûd), dan الشمس (al-syams bukan asy-syams)
6.      Hamzah
Dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah itu terletak diawal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.
Contoh:
تاخذون          : ta’khudzuna
النّوء             : an-nau’
 اكل              : akala
انّ                : inna
7.      Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital seperti apa yang berlaku dalam EYD, diantaranya: Huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri itu didahului oleh kata sandang (artikel), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya, seperti: al-Kindi, al-Farobi, Abu Hamid al-Ghazali, dan lain-lain (bukan Al-Kindi, Al-Farobi, Abu Hamid Al-Ghazali). Transliterasi ini tidak disarankan untuk dipakai pada penulisan orang yang berasal dari dunia nusantara, seperti Abdussamad al-Palimbani bukan Abd al-Shamad al-Palimbani.
8.      Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis secara terpisah.
Contoh:
الخلفاء الراشدين            : al-Khulafa al-Rasyidin
صلة الرحم                    : silat al-Rahm
الكتب الستة                   : al-Kutub al-Sittah

G.    Kutipan
Kutipan yang berasal dari bacaan terdiri dari dua jenis, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah kutipan yang sama persis dengan teks atau naskah yang dikutip. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah kutipan yang diambil dari gagasan atau pemikiran pokok yang disajikan oleh penulis berdasarkan naskah atau teks yang dikutip.
Terdapat beberapa ketentuan yang berkenaan dengan penulisan kutipan langsung.
1.      Kutipan ditulis dengan menggunakan “dua tanda petik” jika kutipan itumerupakan kutipan pertama atau dikutipdari penulisnya. Jika kutipan itu diambil dari kutipan, maka kutipan itu ditulis dengan menggunakan ‘satu tanda petik’.
2.      Jika bagian yang dikutip terdiri dari empat baris atau kurang, maka kutipan ditulis menggunakan tanda petik (sesuai dengan ketentuan pertama), dan penulisnya digabungkan kedalam paragraf yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak dua sepasi
Contoh :
Dalam penelitian ini, statistik memiliki arti “the science of collecting, classifying, presenting and interpreting numerical data” (Johnson, 1984 : 4).
3.      Jika bagian yang dikutip terdiri atas lima baris atau lebih, maka kutipan ditulis tanpa tanda kutip dan titik dengan jarak satu sepasi. Baris pertama diketik mulai pada ketukan ke enam, sementara baris kedua dan seterusnya diketik pada ketukan ke empat.
Contoh :
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah, antara lain adalah faktor kemauan atau keinginan. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh rachmat Djatina sebagai berikut :
Kemauanlah yang mendorong manusia berusaha dan bekerja. Tanpa kemauan, semua ide, keyakinan, kepercayaan, pengetahuan, akan menjadi pasif dan tidak ada arti pada kehidupan. Demikian kemahiran para ahli dan ketajaman otak para ahli pikir, kehalusan perasaan, tahu akan kewajiban, tahu akan baik dan tidakbaik untuk dikerjakan, kalau tidak ada kemauan untuk melaksanakannya, semua itu menjadi tidak ada pengaruhnyadalam kehidupan (Djatnika, 1985 : 51)

4.      Jika dalam skripsi dicantumkan ayat al-Qur’an, maka harus ditulis bentuk aslinya. Dan diakhiri setiap ayat, harus dicantumkan nama surat, nomor surat dan nomor ayatnya dengan menggunakan huruf Arab. Jika akan ditulis terjemahannya kedalam bahasa Indonesia, maka diharapkan menggunakan terjemah kitab suci al-Qur’an yang diterbitkan oleh departemen agama. Carapengutipan terjemah al-Qur’an itu adalah, jika terjemahan al-Qur’anter terdiri dari empat baris atau kurang maka ditulis dengan jarak dua spasi tanpa menggunakan tanda kutip. Sedangkan jika terdiri dari lima baris atau lebih maka diketik satu spasi tanpa menggunakan tanda kutip. Baris pertama dimulai pada ketukan ke enam dan baris kedua dan seterusnya dimulai pada ketukan ke empat :
ö@è% uä!%y` ,ptø:$# $tBur äÏö7ムã@ÏÜ»t7ø9$# $tBur ßÏèムÇÍÒÈ  
Katakanlah : “Kebenraan telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”(Q.S. Saba, 34:49)
Contoh terjemahan yang terdiri dari lima baris atau lebih :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ j
Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku supaya kamu salingkenal mengenal. Sesungguhnya manusia yang mulis disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Q.S. Al-Hujurat, 49:13)

            Sedangkan untuk kutipan tidak langsung, penulis dapat menggunakan gaya bahasa dan isi yang tidak harus sama dengan sumber yang dikutip tanpa harus menggunakan tanda kutip. Penulis dapat menggunakan gaya yang berbeda dengan sumber rujukan, dengan tetap tidak mengubah maksud dan isi sumber kutipan. Contoh kutipan tidak lansung adalah :
Dalam kegiatan antara islam dan pendidikan, Nurcholis Masjid menekankan bahwa agama islam mengikuti keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggungjawab pribadi dihari kemudian (Madjid, 1999:2)

H.    Rujukan atau Acuan
Rujukan atau acuan dalam penulisan skripsi di lingkungan STISA Ash-Shofa Manonjaya Tasikmalaya adalah sebagai berikut :
1.      Sumber kutipan ditulis setelah kutipan, yaitu dengan mencantumkan nama penulis (cukup ditulis nama belakangnya atau disebut juga nama / family name), tahun tahun penerbit dan nomor halaman yang dikutip semua diletakan dalam tanda kurung.
Contoh :
Dalam kegiatan antara islam dan pendidikan, Nurcholis Masjid menekankan bahwa agama islam mengikuti keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggungjawab pribadi dihari kemudian (Madjid, 1999:2)
2.      Jika sumber kutipan merujuk sumber lain atas bagian yang dikutip, maka sumber kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan oleh pengutip, tetapi dengan menyebutkan siapa yang mengemukakan pendapat itu.
Contoh :
Fazlur Rahman tidak sependapat dengan para kritikus muslim yang menyatakan bahwa islam tidak mengenal demokrasi. Ia mengatakan “...para keritikus muslim jelas keliru dalam menolak demokrasi, yang secara positif dan gamblang diperintahkan oleh al-Qur’an” (Amal, 1989:218)
3.      Jika penulis terdiri atas dua orang, maka kedua nama belakang (family name) penulis tersebut dicantumkan.
Contoh :
            Berkenaan dengan tumbuhnya tradisi filasafat alam, ada pendapat yang mengatakan bahhwa “...peristiwa yang paling penting dalam pembentukan pemikiran filsafat islam adalah pertemuannya dengan filsafat Yunani di Bagdad” (Beck dan Kaptein, 1988:47)
4.      Jika penulisnya empat orang atau lebih, maka hanya penulis pertama yang dicantumkan nama belakangnya (family name) dan diikuti oleh et al. (et al, yang berarti dan lain-lain.
Contoh : (Chan et al. 1984:87)
5.      Jika sumber kutipan itu tanpa nama maka ditulis Anonimous. Misalnya (Anonimous, 1985:76)
6.      Jika sumber rujukan tidak dicantumkan tahun penerbitan, maka tahun penerbitan diganti dengan singkatan t.t., misalnya (Al-Asqalany, t.t.:223)
7.      Untuk penulis yang berasal darui timur tengah, penulisan nama pada rujukan menggunakan nama yang sudah dikenal secara umum dan nama lengkapnya dicantumkan dalam daftar pustaka. Al-Bukhary, Muslim, Al-Syafi’i, Hanifah, Malik, Al-Asqalany dan lain-lain
8.      Kutipan yang diambil dari sebuah alamat di internet, cukup menuliskan alamat internet dimana suatu naskah, buku artikel atau sumber lain disimpan. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai (http://www.kajianpustaka.com/2013/04/motivasi-belajar.html#.UdOmJDul5s8)
9.      Pengutupan dari CD-ROM, yang saat ini beredar cukup banyak, termasuk kitab-kitab klasik islam juga dapat dilakukan dengan menyebutkan judul lengkap CD-ROM dan tahun pembuatannya. Contoh : (Mausu’ah al-Hadits al-Syarief [CD-ROM]:1998)


I.       Penggunaan Gelar dan Jabatan Akademik
Penggunaan gelar dan jabatan akademik (seperti Drs, M.S, Dr, Ph.D, S.H dan lain-lain) tidak boleh dicantumkan dalam isi pembahasan dan hanya boleh dicantumkan pada bagian muka, ayitu dalam lembar persetujuan, pengesahan, riwayat hidup, dan kata pengantar.

J.      Persyaratan Teknis
Ada beberapa ketentuan yang harus diikuti dalam bagian ini, yaitu :
1.      Jumlah baris pada setiap alinea minimal terdiri dari dua baris. Baris pertama ditulis pada ketukan ke enam dari batas margin kiri.
2.      Perpindahan pada alinea baru hanya dilakukan jika gagasan pembicaraan beralih dari apa dibicarakan pada alinea sebelumnya
3.      Jarak antara baris satu dengan baris yang lain dalan isi bab (kecuali kutipan langsung), kata pengantar dan daftar isi adalah dua spasi. Sedangkan untuk ikhtisar dan daftar pustaka ditulis dengan jarak satu spasi
4.      Karakter hurup yang digunakan dalam penulisan skripsi adalah Roman 10 atau San Serif 10 (untuk program WordStar), atau Courir 10 (untuk mesin tik IBM), atau Times News Roman 12 (untuk program MS Word)
5.      Penulisan bab harus menggunakan hurup kapital semua tanpa menggunakan titik dan garis bawah. Setiap hurup awal dari sub bab menggunakan huruf kapital, kecuali kata depan dan sambung
6.      Kerangka penomoran dari mualai bab, sub bab dan penomoran yang lebih rinci adalah seperti pada contoh berikut ini
7.       
BAB I
JUDUL BAB
A.    Sub Bab
1.      Sub-sub Bab
d.       ...................................
1)      ......................................
a)      ............................................
(1)   ....................................................
(a)    ...........................................................
2.      Sub-sub Bab
B.     Sub Bab
dst
7.      Penomoran halaman pada bagian muka, menggunakan angka romawi kecuali (i, ii, iii, iv ....) sedangkan penomoran dari halaman BAB I sampai bab terakhir menggunakan nagka bahasa arab (1,2,3,4,5,.......)
8.      Penempatan nomor halaman ditentukan sebagai berikut :
a.       Untuk halaman yang memuat judul bab, nomor halaman ditempatkan dibagian bawah naskah dan  diletakan ditengah (center) antara margin kiri dan margin kanan. Jarak antara naskan dan nomor halaman adalah 1 cm
b.      Untuk halaman selain ketentuan di atas, ditempatkan di atas naskah
9.      Skripsi yang telah dimunaqasyahkan dan telah direvisi, selanjutnya digandakan minimal sebanyak 4 eksemplar, masig-masing akan diserahkan kepada fakultas, ketua jurusan, perpustakaan, dan mahasiswa yang bersangkutan



BAB VI
PENUTUP



Pedoman penyusunan skripsi dilingkungan Ash-Shofa Manonjaya ini disusun sebagai bahan acuan bagi mahasiswa yang akan menyusun skripsi. Namun demikian karena buku pedoman ini lebih banyak memuat ketentuan teknis, maka untuk  lebih memperdalam seluk-beluk penelitian, mahasiswa masih harus mendalami meteri kuliah metode penelitian yang juga disampaikan di bangku kuliah.










                                                                                                                               

Tidak ada komentar: